Langsung ke konten utama

Puisi-Puisi Yusri Fajar

padmagz.com 27 Sep 2016

Memori dari Kopermu
Buat NS di London

Kurasakan juga gigil puisimu
setelah roda pesawat mencuri butiran salju
dari landasan bandara Heathrow
lalu membawamu terbang menuju kotamu
yang masih tergenang.

Aku menemukan memori dari kopermu.

catatan yang tak beku
seperti sungai di depan London Eye,
perasaan yang tak tersekap
seperti para penari penghibur di dekat Travel Lodge King Cross
naluri yang tak terkunci
seperti panggung theatre shakepeare.

Kurasakan juga gigil puisimu
Setelah sarung tanganmu kau lepas
Lalu kau lahirkan puisi dari ziarahmu
Mirip telur-telur yang menetas


Gare De L’Est

Di atas beranda (stasiun) Gare De L’Est
Lelaki dan perempuan telanjang dada
mematung di atas jam melingkar
dicakar hembusan angin dingin
diteropong pelancong bermata kosong

Botol-botol anggur digantung
Di plafon besi melengkung
menyambut murung

Pelancong meninggalkan Napoleon
mematikan neon kamar Monalisa
menyimpan tulisan Sartre di Café de Flore
mengenang kepayang di tangga Eifel
melambaikan kata pulang
dengan bibir terpaut
dan kedua tangan mekar
di jendela kereta

Paris Metro, 2010


Mata Piza Roma

Kursi berlukis romawi satu meja kaca
Memantulkan mata dua pizza
yang menatap mata kita.

Roma termini digedor-gedor sejoli
Basilica dipenuhi para pendoa
Kita masih di kedai ini
Berhenti di tengah lingkaran pizza
Penuh jamur dan rindu yang tak kendur
Sayatan tuna dan gairah yang tak musnah
Siraman bayam dan genggaman yang tak terpisahkan
potongan tipis sosis dan langkah romantis yang tak terkikis
dan Dua gelas capucino bergambar Umberto Eco
serta dua senyum manis

Roma, 2010


Nara

Di gang-gang kecil kota Nara
kau hilang dalam huruf-huruf kanji

Deretan Nihon Minkaen, rumah ciptaan leluhurmu
membungkukkan genting-genting indahnya
menghormat pada tatapan matamu.

Kayu dan bambu di dinding dan jendelanya tahu
kau memang ayu.

Jadikah menjelang senja ini
kau menemui lelaki dari ufuk timur
di rumah sastrawan Shiga Naoya
di tepi taman nasional Nara
yang dihias kijang-kijang berlarian
karena digoda anak-anak Jepang?

Mungkin kau perlu mengajaknya juga
duduk di atas Ukimido Gazebo
sambil melihat bayang-bayang rindu dipantulkan air
yang dipenuhi pantulan daun-daun sakura
yang telah menghijau. Andai ia datang di musim semi sebulan
yang lalu di kota Nara, ia pasti menyematkan kembang sakura
di dahan-dahan hatimu yang tak lelah menunggu.

Nara-Jepang, 2012


Pada Kereta

Kursi-kursi bertapa dalam gerbong tempat orang-orang menerka masa

Sejak persinggahan hingga menjelang ladang-ladang dari balik jendela tembus mata. Segenap hati memanggil berjuta pertemuan pada hari ketika orang bermimpi menggapai kekasih, harapan, situs-situs sejarah, asa, berbagai undangan dan perjanjian.

Gerbong-gerbong bergandengan membawa serta putus asa, jiwa tegar dan kata-kata hampa. Pada gelas-gelas berisi bir beberapa jiwa menggantungkan kesumat dan kebahagiaan. Sekuntum mawar dalam genggaman menunggu stasiun pemberhentian saat para penjemput merekahkan tangan melihat langit menggapai penantian bergegas menumpahkan rindu melepas pesan di batas-batas kota.

Peluit meninggalkan sakit para kekasih tertinggal dalam kesepian
Kota-kota terlindas kenangan memahat frasa selamat jalan dan selamat tinggal

Frankfurt-Nuemberg, Jerman ICE 25, 30 September 2008


Senja di Malaka

Mata bertemu senja di Malaka
mengenang kejayaan Eropa
dalam gereja tua, pusat pertokoan lama
dan tugu tempat orang-orang melabuhkan rindu

Gedung-gedung ratusan tahun mendengung
memantulkan bayang orang-orang berambut pirang
mencumbu Melayu dengan perahu

Senja di Malaka mega jingga berderai
dalam aliran anak sungai
wajah-wajah menggugah sejarah
kenangan sepanjang jalan penjajahan
dalam keriuhan dan kesepian

Malaka, 5 Juni 2011

http://padmagz.com/2376-2/

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Sajak-Sajak Pertiwi